Tentang Kami - Mengapa

Pada tahun 2011 terjadi 119.107 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani dan dilaporkan, 95,61% di antaranya adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau sebanyak 113,878 kasus.

Catatan Akhir Tahun yang dikompilasi oleh Komnas Perempuan dari berbagai institusi

Secara global perempuan masih memiliki porsi yang lebih besar dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibanding lelaki, walaupun dari data yang tersedia menunjukkan 40 persen perempuan juga bekerja di ranah publik. Minimnya partisipasi laki-laki dalam berbagi beban mengurus rumah tangga dan mengasuh anak menjadi tantangan yang besar untuk mencapai keadilan gender. Pola hubungan yang belum setara ini juga menyebabkan angka kekerasan dalam rumah tangga masih relatif tinggi dan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi ibu dan anak tidak terpenuhi.

Secara khusus di Indonesia, masih minimnya keterlibatan laki- laki berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan ibu dan meningkatnya angka kematian ibu. Senada dengan hal ini, angka kekerasan terhadap perempuan juga cenderung belum mengalami penurunan. Hasil penelitian dari Pusat Studi Keluarga Universitas Indonesia yang menunjukan hubungan yang kuat antara kuatnya nilai patriarki (nilai yang mengutamakan laki-laki dibanding perempuan) di satu wilayah dengan tingginya angka kematian ibu.
Dua persoalan tersebut hanya merupakan puncak gunung es karena masih jauh lebih banyak kasus yang tidak tercatat dan terlaporkan.

Jumlah kematian ibu hamil, melahirkan dan semasa nifas yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2008 sampai dengan 2012 mencapai 359 orang per 100.000 kelahiran hidup per tahun. Artinya, tiap jam, tiga ibu Indonesia meninggal usai melahirkan atau ada 44 ribu ibu per hari.

Data lembaga Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia Universitas Indonesia

Persoalan ini erat kaitannya dengan pemahaman budaya dan penafsiran sempit terhadap agama yang menempatkan laki-laki dalam posisi dominan sehingga kekerasan sering dianggap suatu pilihan yang wajar. Faktor budaya sering “mengharuskan” laki-laki untuk bersikap maskulin dan jauh dari rumah tangga sehingga memiliki membuat kesehatan ibu dan anak menjadi persoalan yang dianggap bukan merupakan prioritas laki-laki.


Tentang Laki-Laki Peduli

Sejak tahun 2007, RutgersWPF Indonesia, lembaga nonprofit internasional yang mempromosikan hak dan kesehatan sekual dan reproduksi (HKSR) telah bekerja sama dengan sejumlah organisasi sipil di Indonesia untuk mengembangkan program konseling untuk laki-laki dalam konteks relasi intim. Tujuannya adalah untuk membantu laki-laki yang melakukan kekerasan untuk mengubah perilakunya sehingga dapat menjadi pasangan yang saling menghormati dan anti kekerasan.

Secara internasional, kampanye Men Care+ ini adalah bagian dari upaya pelibatan laki-laki untuk mengambil peran aktif menghentikan kekerasan terhadap perempuan dengan membentuk definisi baru mengenai maskulinitas dan peran ayah (fatherhood).

Program ini didukung oleh Kementerian Luar Negeri Belanda dan diimplementasikan di empat negara yaitu Indonesia, Brazil, Rwanda dan Afrika Selatan. Tujuannya adalah untuk menjawab persoalan dampak buruk norma sosial dan budaya yang berpengaruh terhadap angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan penurunan angka kematian ibu dengan melibatkan laki-laki dewasa dan muda sebagai pasangan yang peduli dan terlibat aktif / caregiving partners.  Program Laki-Laki Peduli diimplementasikan oleh RutgersWPF Indonesia, Yayasan Pulih, Rifka Annisa Women’s Crisis Centre, PKBI Lampung dan PKBI Jawa Timur.

Tujuannya adalah melibatkan laki-laki untuk berperan aktif mendukung pemenuhan hak seksual dan kesehatan reproduksi dengan menjadi mitra pengasuhan bersama istri, menurunkan angka kematian ibu dan kekerasan terhadap perempuan.

Program ini bekerja di berbagai tingkat dengan melalui media, pengembangan program dengan mitra terkait dan advokasi kebijakan. Harapannya agar ada perhatian yang lebih besar terhadap hak-hak kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi terhadap kelompok yang selama ini terabaikan.