Kembali ke Daftar

Dari workshop komunitas, diskusi kasus, dan berakhir buka puasa bersama

10/7/15
Dari workshop komunitas, diskusi kasus, dan berakhir buka puasa bersama
Memasuki bulan Juli, warga masyarakat semakin disibukkan dengan persiapan hari Raya Idul Fitri. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat tim Laki-Laki Peduli PKBI Jawa Timur di Bondowoso untuk tetap melakukan kegiatan.

Pada 14 Juli 2015, tim masih melakukan diskusi modul dalam workshop komunitas pada kelompok ibu di desa Mandiro, Kecamatan Tegal Ampel, Kabupaten Bondowoso, di sisi lain para ayah masih bekerja di sawah.

Dalam kondisi puasa dan mendekati hari raya, warga dampingan masih semangat belajar mengenai gender. Bahwa berbagi peran dalam rumah tangga adalah hal ideal yang mestinya harus terjadi dalam sebuah rumah tangga.

“Kalau saya lagi sibuk mencuci ya bapaknya bikin kopi sendiri, kalau saya repot ya bapaknya kadang-kadang bantu jaga anak , tapi kadang-kadang suka marah juga”, ujar Maisaroh, 35 th dengan logat maduranya, peserta dari desa Mandiro Kecamatan Bondowoso. “setelah ikut kegiatan ini, saya jadi tidak ragu lagi kalau sebenarnya dalam rumah tangga itu memang harus saling berbagi dan bersama-sama”, ujarnya setelah mengikuti kegiatan.

Beberapa peserta juga mengajak anaknya untuk ikut berkegiatan, karena itu tim menyiasatinya dengan membuat kelas tersendiri buat anak. Selain mengajak menggambar bersama-sama, anak-anak juga mendapatkan informasi dini tentang kesehatan reproduksi, bagaimana mengenali tubuhnya dan waspada terhadap kejahatan orang lain atas tubuhnya, dengan menonton video si Geny dan si Aksa.

Malam harinya, Tim Konselor akan bekerja di area yang berbeda. Kalau di Kepolisian ada bedah perkara, maka di Tim Konselor Laki-Laki Peduli pun ada bedah kasus. Mereka berkumpul dan mendiskusikan beberapa kasus yang mereka tangani dengan intervensi konseling laki-laki.

Dalam kegiatan itu muncul beberapa diskusi kasus, dari perselingkuhan oleh suami, maupun perselingkuhan yang juga dilakukan oleh istri. Karena terhimpit ekonomi, S yang berprofesi sebagai kuli bangunan dan kerap berpindah tempat tinggal dengan istrinya, berubah menjadi lebih kasar tabiatnya. Karena hal-hal kecil yang tidak berkenan dihatinya, S bisa marah-marah pada istrinya, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik yang menimbulkan lebam-lebam di tubuh istrinya.

Nasehat dari keluarga atau tetangga tak pernah dihiraukannya, sampai si istri memutuskan untuk meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuanya . Tapi setelah bertemu dengan Nuril, salah satu konselor Tim Mencare PKBI Jawa Timur di Bondowoso, S mendapatkan pencerahan banyak hal dan mengaku mulai bisa memperbaiki hubungannya dengan istri, setelah meminta maaf pada istri dan mertuanya.

Cerita tersebut adalah bagian dari kasus yang didiskusikan oleh mereka. Kegiatan diakhiri dengan buka bersama dan membuat rencana dan strategi penjangkauan kasus yang sama di wilayah Bondowoso.