Edukasi

Setelah peserta mendapatkan materi tentang keayahan, mereka diharapkan dapat memecahkan persoalan bersama terkait dengan:

  1. Kesehatan reproduksi (termasuk penggunaan kondom untuk melindungi pasangan dari infeksi menular seksual)
  2. Berhenti melakukan kekerasan
  3. Keterlibatan aktif dalam pendidikan anak
  4. Keterlibatan aktif suami dalam suami kelahiran anak (dari proses kehamilan sampai dengan kelahiran).
Program Edukasi
  • Komunitas Ayah

    Kami membuat modul diskusi komunitas kelompok ayah yang terdiri dari 11 bab diskusi. Modul ini menjadi petunjuk dalam melakukan diskusi yang terstruktur.

  • Komunitas Remaja Laki-laki

    Sama seperti kelompok ayah, kami juga turut menyusun modul diskusi komunitas kelompok remaja. Kami percaya remaja laki-laki memiliki kebutuhan yang berbeda dengan komunitas ayah, modul ini disusun menjadi 11 bab dan dibuat untuk menyesuaikan dengan remaja laki-laki.

  • Tenaga Kesehatan

    Modul untuk petugas layanan kesehatan masih kami susun dan akan diluncurkan dalam beberapa bulan mendatang.

Tertarik untuk bergabung bersama kami dan melakukan perubahan? Jangan ragu untuk menghubungi kami sekarang juga.

Laki-laki peduli ini dilaksanakan untuk membentuk ulang kerangka berfikir (mindset) tentang konsep maskulinitas dan nilai keayahan.

Setiap manusia memiliki masalah, termasuk juga laki-laki. Kadangkala kita memerlukan bantuan orang lain, bahkan perlu juga bantuan tenaga professional seperti psikolog, psikiater, maupun konselor.


Sayangnya berbagai masalah yang dihadapi laki-laki selalu disimpan sendirian dan di saat tertentu bisa meledak dan keluarga terdekatlah yang mendapat imbasnya termasuk munculnya kekerasan dalam rumah tangga.


Laki-laki cenderung menyimpan sendiri masalahnya karena tuntutan sosial yang mengharapkan laki-laki dengan berbagai ekspektasi sebagai berikut:
- Laki-laki diharapkan menjadi sosok yang kuat, tangguh, tidak cengeng dan mengandalkan diri sendiri. 
- Laki-laki dituntut untuk berusaha lebih keras dan berkompetisi untuk mencapai kesuksesan. 
- Laki-laki cenderung diajarkan untuk menyelesaikan masalah dengan cara rasional bahkan kadangkala menggunakan kekerasan. 
- Laki-laki seringkali sulit mengungkapkan perasaannya karena khawatir dianggap lemah dan cengeng. 
Dampak dari hal ini, laki-laki cenderung rentan mengalami masalah kesehatan, kejiwaan, hingga hukum yang ditunjukan oleh data berikut: 
- Jumlah laki-laki yang bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri 2 kali lebih banyak dibanding perempuan (WHO, 2014) 
- Jumlah laki-laki yang menjadi penghuni lapas karena terlibat kriminalitas jumlahnya 9 kali lebih banyak dari perempuan (Ditjen Lapas, 2014) 
- Laki-laki yang mengalami stroke jumlahnya lebih banyak daripada perempuan (Riskesda Kementrian Kesehatan, 2013) 
- Laki-laki 10 kali lebih banyak terlibat dalam penyalahgunaan narkotika dibanding perempuan (BNN, 2012)


Masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa dihindari jika laki-laki mau menceritakan masalahnya melalui konseling. 
Mari kita stop kekerasan dengan mengajak laki-laki untuk menceritakan masalahnya di konseling laki-laki.


Yayasan Pulih, Jakarta
Hotline: 021 982 86 398 / 021 788 42 580 dan 0888 181 6860
www.pulih.or.id


Rifka Annisa, DI Yogyakarta 
Hotline: 0274 9811 050
www.rifka-annisa.org 


Pelatihan untuk Fasilitator Kelompok Orang Dewasa

Program Laki-laki Peduli bekerjasama untuk kesetaraan sudah berlangsung sejak satu tahun lalu di Jombang dan Bondowoso. Salah satu tujuan program tersebut adalah mendorong peran orang dewasa, khususnya ayah untuk terlibat dalam pengasuhan, mencegah dan menghapus kekerasan serta berkontribusi aktif dalam pelaksanaan Keluarga Berencana, utamanya pemilihan alat kotrasepsi.

Program tersebut dilaksanakan di Bondowoso dan Jombang, dengan perkembangan hingga saat ini mencapai lebih dari 10.000 orang terpapar informasi, baik melalui dunia maya (fb, website hingga twitter) maupun berbagai event kegiatan (seminar, pameran kebudayaan hingga pertemuan secara rutin) serta publikasi (banner, spanduk hingga buletin khutbah Jum’at).

Gerakan masyarakat secara massif, berlahan dan berkelanjutan dilakukan melalui pertemuan rutin kader dengan fasilitator di kabupaten. Untuk itu maka dilakukan Pelatihan Fasilitator Kelompok Orang Dewasa, dimana pelatihan diikuti oleh 40 peserta yang merupakan Kader di Jombang dan Bondowoso. Pelatihan tersebut difasilitasi oleh Suharti dan Tantowi, dari Rifka Annisa Jogjakarta pada tanggal 17 – 19 Juni 2014 di Surabaya.

Banyak cerita bagaimana pengalaman para peserta berinteraksi dengan ayahnya, yang penuh pemaknaan disiplin melalui kekerasan dan kurangnya interaksi antara ayah dan anak. Namun dengan semangat untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, ma waddah wa rohma (keluarga yang tentram, saling mencinta dan penuh kasih sayang), para peserta (kader) berkomitmen untuk memutus mata rantai kekerasan dan mewujudkan keluarga yang nir KDRT.

 

 

 

Kampanye jakarta

Pelaksana adalah Rifka Annisa dengan jangkauan di Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul

Kampanye jakarta

Pelaksana adalah Yayasan Pulih

Kampanye jakarta

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi. Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.